Inter Milan tampaknya menolak untuk menurunkan minat mereka terhadap Antonio Conte, dimana sang pelatih Chelsea masih berada dalam rencana masa depan Nerazzurri.
Muncul pernyataan bahwa Suning Group sebagai pemilik Inter mampu menggoda Conte untuk kembali ke kancah sepakbola Serie A.
Ada keyakinan bahwa dengan munculnya ketegangan antara Conte dan pemilik Chelsea, Roman Abramovich atas penunjukan staf bisa membuat sosok berumur 47 tahun berpikir untuk hengkang dari Stamford Bridge.
Bahkan Suning sempat membeberkan rencana kedepan mereka kepada Conte pada pertemuan bulan lalu dan dia terlihat terkesan.
Namun, The Blues nampaknya tidak segampang itu membiarkan pelatih miliknya menjauh dari London, dimana mereka mampu menempati urutan teratas pada klasemen Liga Premier berkat olahan tangan Conte.
Pengalaman Conte diperkirakan yang menjadi daya tarik bagi Suning untuk menyeretnya ke San Siro, pasalnya dia pernah menduduki kursi kepelatihan Juventus dan juga skuad tim nasional Italia.
Sepp Herberger sudah wafat hampir empat dekade silam. Namun, warisan pria asal Jerman ini sampai sekarang belum juga luntur.
Dalam sebuah kesempatan, Herberger pernah mengatakan bahwa “bola itu bulat dan sebuah pertandingan berlangsung selama 90 menit”. Klise memang kedengarannya. Akan tetapi, dia tidak asal bicara. Ketika mengucap kalimat tersebut, Herberger secara tidak langsung menekankan bahwa semuanya mungkin terjadi di sepak bola. Semuanya.
Herberger sendiri pernah menjadi pelakunya. Menghadapi Hongaria yang perkasa dan tidak terkalahkan selama bertahun-tahun, Tim Nasional Jerman Barat yang dilatihnya berhasil menjinakkan serdadu-serdadu Gusztav Sebes pada final Piala Dunia 1954.
Terlepas dari adanya tuduhan bahwa para pemain Hongaria diracuni, sejarah mencatat bahwa Jerman Barat adalah juara dunianya, bukan Hongaria. Dengan keberhasilan tersebut, selain menjungkalkan prediksi, Herberger juga meletakkan tradisi sepak bola kuat di negara yang saat itu belum pulih benar dari efek Perang Dunia.
Tidak ada yang tidak mungkin di sepak bola. Para penggemar sepak bola tahu itu. Semua pelaku sepak bola pun tahu itu. Pasalnya, ada banyak sekali bukti yang menunjukkan hal itu. Keberhasilan Jerman Barat kala itu hanya satu dari sekian banyak contoh.
Menghadapi Paris Saint-Germain di Camp Nou, dini hari (9/3) nanti, Barcelona punya tugas yang tidak ringan. Sama sekali tidak ringan, kalau tidak boleh dibilang mustahil. Di rumah mereka yang megah itu, Lionel Messi dkk. diharuskan untuk menang dengan selisih lima gol untuk bisa lolos ke perempat final Liga Champions setelah di leg sebelumnya, mereka takluk 0-4.
Ajang antarklub Eropa sendiri tidak asing dengan yang namanya comeback, atau keberhasilan sebuah klub membalikkan keadaan setelah kalah di leg pertama. Hal ini sudah kerap terjadi bahkan sejak kejuaraan-kejuaraan antarklub baru seumur jagung. Lewat sini, kumparan ingin mengajak Anda untuk mengunjungi momen-momen di mana keajaiban-keajaiban itu terjadi.
1) FC La Chaux-de-Fonds vs Leixoes SC (6-2, 0-5) – Babak Kualifikasi Piala Winners 1961/62
Pernah dengar dua klub ini? Sama, kami sebelumnya juga belum pernah. Maka dari itu, kami harus memulainya dari sini supaya terlihat keren. Sebagai pengantar, FC Chaux-de-Fonds adalah klub asal Swiss dan Leixoes SC adalah klub dari Portugal. Saat ini, Chaux-de-Fonds berlaga di Promotion League alias Divisi Tiga Liga Swiss. Sementara itu, Leixoes SC kini bermain di Divisi Dua Liga Portugal.
Ketika itu, Leixoes SC berhasil lolos ke Piala Winners setelah mengalahkan Porto di final Taca de Portugal (Piala Portugal) dengan skor meyakinkan 2-0. Di babak kualifikasi, mereka langsung berjumpa dengan Chaux-de-Fonds yang lebih berpengalaman. Hasilnya, mereka dibantai 2-6 di kandang lawan, Stade Charriere.
Namun, Leixoes bangkit. Di kandang sendiri, mereka mengamuk dan menggelontor gawang Chaux-de-Fonds lima gol tanpa balas. Empat gol, masing-masing dua dari Osvaldo Silva dan Oliveiringa, ditambah sebiji gol dari Vandinho, membuat Leixoes melenggang ke babak berikutnya.
Di turnamen ini sendiri, Leixoes berhasil melaju sampai perempat final. Pada babak pertama, mereka sukses menundukkan wakil Rumania, Progresul Bucuresti, dengan kemenangan agregat 2-1. Sayang, langkah mereka kemudian dihentikan oleh klub Jerman Timur, Motor Jena, dengan skor agregat 4-2.
Meski tersingkir lebih awal, keberhasilan Leixoes ini belum bisa disamai klub mana pun sampai sekarang. Mereka adalah satu-satunya klub yang bisa lolos setelah tertinggal empat gol di leg pertama tanpa mengandalkan aturan agresivitas gol tandang. Wow!
2) Partizan vs Queens Park Rangers (2-6, 4-0) – 16 Besar Piala UEFA 1984/85
Bicara soal tertinggal empat gol, ada Partizan, klub bentukan militer Yugoslavia. Ketika itu, mereka berhasil mengubur mimpi anak-anak Queens Park Rangers (QPR) yang jemawa.
Ceritanya adalah, pada leg pertama QPR harus mengungsi ke Arsenal Stadium di Highbury karena Persatuan Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) tidak mengizinkan pertandingan dilangsungkan di atas lapangan artifisial. Loftus Road, kandang mereka, ketika itu menggunakan rumput buatan karena, well, biaya perawatannya lebih murah. Meminjam stadion milik Arsenal, QPR tertular tuahnya. Mereka mengirim wakil Yugoslavia itu pulang dengan kekalahan 2-6. Tugas QPR kala harus bertandang ke Beograd pun semakin ringan.
Hmm, benarkah?
Ternyata tidak. Biar bagaimana juga, Partizan adalah Partizan, klub raksasa dari Semenanjung Balkan. Sementara itu, QPR tetaplah QPR, klub kelas kecamatan dari Shepherd’s Bush di London Barat.
Dragan Mance, Dragan Kalicanin, Mlodrag Jesic, dan Zvonko Zivkovic jadi mimpi buruk The Hoops. Empat gol mereka akhirnya membuat kedudukan imbang 6-6 secara agregat dan atas keberhasilan Partizan membuat dua gol di London, merekalah yang akhirnya lolos ke perempat final. Sayang, mereka kemudian harus kalah dari tim yang akhirnya menjadi finalis, Videoton dari Hongaria.
3) Bayer Uerdingen vs Dynamo Dresden (0-2, 7-3) – Perempat Final Piala UEFA 1985/86
Barangkali, duel Jerman Barat vs Jerman Timur ini adalah duel paling menggelikan yang pernah ada di ajang antarklub Eropa. Entahlah, tetapi bagi kami ini benar-benar konyol.
Bayer Uerdingen adalah tim Jerman Barat, sedangkan Dynamo Dresden merupakan klub jagoan Oberliga Jerman Timur. Ketika Uerdingen menyeberang ke Dresden, mereka harus mengakui keunggulan Matthias Sammer dkk. dengan skor 2-0. Gol dari Frank Lippmann pada menit ke-50 dan Hans-Uwe Pilz 12 menit berselang membuat beban Dynamo menjadi sedikit berkurang.
Benar saja. Dalam laga leg kedua di Grotenburg-Stadion, Dynamo pun berhasil mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 3-1. Namun, bak jadi pertanda keruntuhan komunisme di Jerman, Dynamo pun mendadak loyo.
Enam gol berhasil digelontorkan anak-anak Bayer Uerdingen di babak kedua. Wolfgang Funkel yang sempat membuat satu gol pada babak pertama, membuat dua gol tambahan. Kemudian, empat gol lainnya dicetak oleh Larus Gudmonsson, Wolfgang Schaefer (dua gol), dan Dietmar Klinger.
Sayangnya, sensasi Bayer Uerdingen ini kemudian terhenti di tangan Atletico Madrid. Anak-anak asuh Luis Aragones tersebut secara meyakinkan menyingkirkan Uerdingen dengan skor agregat 4-2.
4) Bayer Leverkusen vs Espanyol (0-3, 3-0, 3-2 – pen) – Final Piala UEFA 1987/88
Gary Lineker pernah berkata bahwa sepak bola adalah sebuah permainan di mana 22 orang saling berebut bola selama 90 menit dan pada akhirnya, orang-orang Jerman selalu menang. Walau ada benarnya, Lineker lupa bahwa orang-orang Jerman juga bisa menang lewat pertandingan selama 180 menit, ditambah 30 menit perpanjangan waktu, dan adu penalti. Contohnya adalah Bayer Leverkusen.
Bertandang ke Barcelona, Leverkusen takluk dari Espanyol dengan skor telak 0-3. Dua gol dari Sebastian Losada dan satu gol dari Miguel Soler membuat anak-anak asuh Javier Clemente menatap leg kedua di Leverkusen dengan kepercayaan diri yang tinggi. Bahkan, hingga turun minum di laga leg kedua, Espanyol masih unggul agregat 3-0 karena tidak ada gol yang tercipta di babak pertama.
Namun, semua itu lenyap ketika pemain sayap asal Brasil, Tita, menggetarkan jala gawang Thomas N’Kono pada menit ke-57. Setelah gol itu, Leverkusen mampu mencetak dua gol tambahan lewat dua pemain asing lainnya: Falko Goetz dari Jerman Timur dan bintang Asia, Cha Bum-Kun. Tiga gol itu membuat kedudukan menjadi imbang secara agregat.
Laga pun diteruskan lewat perpanjangan waktu dan setelah tak ada lagi gol, adu penalti pun harus jadi penentu. Kegagalan tiga penendang Espanyol akhirnya membuat Leverkusen merengkuh satu-satunya trofi kontinental mereka.
5) Deportivo La Coruna vs Milan (1-4, 4-0) – Perempat Final Liga Champions 2003/04
Setelah berkutat dengan kejadian-kejadian di abad ke-20, saatnya kita bergerak menuju ke era yang lebih modern, tepatnya ke tahun 2004.
Milan adalah salah satu tim terkuat Eropa pada awal hingga pertengahan dekade 2000-an. Dalam kurun waktu tersebut, mereka berhasil melaju ke final Liga Champions sebanyak tiga kali dan memenangi dua di antaranya.
Namun, Milan bukan tanpa cela. Menghadapi wakil Spanyol, Deportivo La Coruna, yang juga sedang ganas-ganasnya, mereka pernah terjungkal. Celakanya, Milan sebenarnya sudah sempat unggul telak.
Pada leg pertama di San Siro, sepasang gol Kaka dan masing-masing sebiji gol dari Andriy Shevchenko dan Andrea Pirlo hanya mampu dibalas La Coruna lewat satu gol Walter Pandiani. Akkan tetapi, ternyata satu gol dari Pandiani itu sudah cukup untuk membakar motivasi pasukan Javier Irureta.
Di Riazor, Walter Pandiani kembali momok bagi Nelson Dida. Baru lima menit pertandingan dimulai, penyerang Uruguay itu membuka keunggulan Super Depor. Setelah itu, tuan rumah pun mengamuk dan menggelontor tiga gol ke gawang Milan. Juan Carlos Valeron, Albert Luque, dan Fran Gonzalez menjadi pencetak tiga gol tambahan yang akhirnya membuat Deportivo La Coruna lolos ke semifinal sebelum dibekuk Porto.
6) Monaco vs Real Madrid (2-4, 3-1) – Perempat Final Liga Champions 2003/04
Bicara soal Liga Champions 2003/04 memang tak ada habisnya. Selain pertandingan La Coruna melawan Milan, laga antara Monaco dan Real Madrid juga menghadirkan drama yang tak kalah berkelas.
Monaco datang ke Santiago Bernabeu pada 24 Maret 2004 sebagai underdog. Menghadapi Real Madrid era Galacticos pertama, status itu kemudian ditegaskan setelah mereka kalah 4-2 di laga tersebut.
Akan tetapi, tahun itu memang tahunnya underdog karena pada leg kedua di Stade Louis II, Monaco berhasil membuat Madrid masuk kotak setelah menang dengan skor 3-1. Dengan skor agregat 5-5, Monaco berhak lolos ke babak semifinal. Mereka pun kemudian mampu lolos ke partai puncak sebelum dikalahkan oleh, hmm, Porto. Hoahm.
7) Chelsea vs Napoli (1-3, 4-1 – e.t.) – 16 Besar Liga Champions 2011/12
Chelsea sempat merasakan keangkeran Stadion San Paolo setelah takluk 1-3 dari Napoli pada pertandingan leg pertama. Pada laga leg pertama tersebut, konon getaran dari stadion itu sampai menimbulkan gempa lokal. Serius. Namun, pada leg kedua, Chelsea menunjukkan kematangannya. Diperkuat pemain-pemain yang memang sudah lama jadi tulang punggung tim, Chelsea berhasil memaksa anak-anak asuh Walter Mazzarri untuk mengakhiri laga lewat perpanjangan waktu. Di waktu normal, Chelsea berhasil mengungguli Napoli dengan skor identik, 3-1.
Chelsea harus berterima kasih pada Branislav Ivanovic. Setelah pada musim sebelumnya berhasil memenangkan laga final Liga Europa untuk The Blues, Ivanovic kembali menunjukkan jasanya. Golnya di menit ke-105 membawa Chelsea terus melaju hingga akhirnya keluar sebagai juara.
Kapten Chelsea, John Terry, mungkin tidak pernah menduga akan menjalani musim 2016-17 dengan mengakrabi bangku cadangan. Namun kenyataan tersebut harus dihadapi Terry yang telah menjadi kapten tim Chelsea sejak 2004.
Kedatangan Antonio Conte pada awal musim 2016-17 sempat membawa angin segar bagi John Terry. Pada akhir musim 2015-16, John Terry hampir mengakhiri kebersamaannya dengan Chelsea setelah tidak mendapat kejelasan mengenai perpanjangan kontrak.
Namun, Conte meminta manajemen Chelsea untuk menambah durasi kontrak Terry selama satu musim karena merasa masih membutuhkan sosok sang kapten. Pada awal musim 2016-17, Terry masih tercatat sebagai penghuni starting lineup The Blues, tetapi cedera yang ia alami membuatnya menepi selama beberapa pekan.
Hasil positif justru diraih Chelsea setelah Terry absen. The Blues arahan Antonio Conte mampu menduduki puncak klasemen. Alhasil, Conte tidak lagi mengandalkan Terry di jantung pertahanan meskipun sang kapten telah pulih cedera.
Saat ini, John Terry hanya berperan sebagai pelengkap tim dan berguna ketika Conte ingin melakukan rotasi pemain. Hingga pekan ke-27 Premier League, Terry baru mencatatkan lima penampilan untuk Chelsea.
Mengacu ke Laws of the Game, kapten adalah pemain yang mewakili timnya saat wasit melempar koin sebelum pertandingan dan babak adu penalti. Kapten tim juga dikenal sebagai sosok yang mampu memberikan inspirasi permainan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.
Namun seiring berkembangnya dunia sepak bola, peran orisinal kapten mulai tergerus. Kini kapten dianggap sebagai pelengkap sebuah tim dan tidak sedikit klub yang memilih kapten berdasarkan popularitasnya.
Selain John Terry, ada tiga kapten klub papan atas Premier League yang mengalami nasib serupa. Berikut ini tiga kapten klub Premier League yang terpinggirkan dari skuat utama timnya:
Per Mertesacker (Arsenal)
Arsene Wenger menunjuk Per Mertesacker sebagai kapten baru Arsenal pada awal musim 2016-17. Mertesacker meneruskan tugas Mikel Arteta yang gantung sepatu akibat cedera berkepanjangan.
Setelah resmi diumumkan sebagai kapten Arsenal, Mertesacker mengalami cedera lutut yang membuatnya tidak bisa membela The Gunners selama lima bulan. Arsene Wenger pun mendatangkan Shkodran Mustafi untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Mertesacker.
Mertesacker pulih ada akhir Januari lalu, namun Wenger tak kunjung menyertakannya dalam skuat Arsenal. Tercatat ia hanya menjadi pemain cadangan yang tidak dimainkan ketika Arsenal berhadapan dengan Southampton dan Sutton United di ajang Piala FA.
Vincent Kompany (Manchester City)
Vincent Kompany mengalami nasib sial pada musim perdana Pep Guardiola menangani Manchester City. Pada musim ini, Kompany sudah mengalami tiga cedera berbeda sejak awal bergulirnya kompetisi Premier League. Pertama, Kompany mengalami cedera pangkal paha, dilanjutkan dengan cedera lutut, lalu cedera kaki.
Cedera tersebut membuat waktu bermain Kompany bersama Manchester City terpangkas. Sang kapten hanya bisa menyaksikan rekan-rekannya berjuang mengejar gelar Premier League dari bangku penonton.
Hingga pekan ke-27 Premier League, Kompany baru mencatatkan tiga penampilan bersama Manchester City.
Wayne Rooney (Manchester United)
Wayne Rooney menjabat peran kapten di Manchester United sejak 2014. Sebagai pemain yang pernah menjadi maskot tim, penunjukkan tersebut dianggap pantas karena Rooney masih dianggap sebagai sumber inspirasi tim.
Pada tiga musim terakhir, Rooney terus mengalami penurunan performa karena ia lebih sering ditempatkan sebagai gelandang saat Manchester United ditangani Louis van Gaal. Kedatangan Jose Mourinho sempat diprediksi akan membuat Rooney kembali bangkit, tetapi pada kenyataannya ia gagal membuktikan kualitas yang pernah ia tunjukkan.
Rooney memang berhasil menjadi pencetak gol terbanyak klub sepanjang masa, tetapi hal tersebut tidak dibarengi dengan penampilan yang konsisten. Dalam beberapa pertandingan, Mourinho sering meninggalkan Rooney dengan alasan sang pemain sakit.
Hingga pekan ke-27 Premier League, Rooney baru mencatatkan 18 penampilan, di mana ia hanya menempati posisi starting lineup sebanyak sembilan kali.
PSSI telah merilis harga tiket pertandingan perebutan tempat ketiga dan final Piala Presiden 2017 yang akan berlangsung di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor pada Sabtu (11/3/2017) dan Minggu (12/3/2017). Sesuai rilis dari PSSI dan panitia pelaksana (panpel), tiket termahal dijual Rp 150 ribu dan paling murah, Rp 75 ribu.
PSSI dan panpel Piala Presiden mengalokasikan masing-masing 27 ribu tiket untuk laga Persib Bandung melawan Semen Padang (perebutan tempat ketiga) dan Pusamania Borneo FC kontra Arema (perebutan juara). Tiket yang dibagikan itu hanya dibagi ke dalam dua kategori, yakni VIP Barat dan tribune.
Pihak panpel mematok harga tiket VIP Barat untuk pertandingan perebutan tempat ketiga dan final dengan harga, Rp 150 ribu. Sementara tiket tribune timur, utara, dan selatan dijual dengan harga, Rp 75 ribu.
Pihak panpel juga menginformasikan pembeli bisa melakukan pembelian tiket secara online maupun secara langsung di Stadion Pakansari Cibinong. Pembelian tiket melalui online bisa dilakukan secara online di loket.com dan penukaran dilakukan saat hari pertandingan.
“Pembelian via online mulai Kamis (9/3/2017) pagi sampai H-1. Sisa tiket akan dijual pada hari H pertandingan di loket sekitar stadion mulai pukul 14.00 WIB,” bunyi rilis dari PSSI.
Sementara itu, PSSI belum menginformasikan soal alokasi tiket yang akan diberikan kepada suporter Semen Padang, Persib Bandung, Pusamania Borneo FC, dan Arema FC untuk laga perebutan tempat ketiga dan juara Piala Presiden 2017. Tim Singo Edan dan Tim Maung Bandung memiliki basis massa yang besar.
Manajer Manchester United Jose Morinho memberikan syarat berat jika Real Madrid tetap ngotot ingin merekrut kiper David de Gea di musim panas mendatang.
Berita yang dilansir media Spanyol menyebutkan bahwa Presiden Real Madrid Florentino Perez akan berusaha keras menghidupkan kembali tawaran mereka untuk transfer David de Gea, setelah mereka gagal mendatangkan si pemain pada menit-menit terakhir penutupan bursa transfer di musim panas 2015 lalu.
Seorang pengamat sepakbola Spanyol, Eduardo Inda, menyatakan bahwa David de Gea sendiri masih memiliki harapan yang besar untuk pindah ke Santiago Bernabeu di musim depan. Sang penjaga gawang diklaim sudah tak betah bermain di Manchester United yang dinilainya seperti neraka karena setiap hari selalu "gelap".
"Real Madrid masih memikirkan tentang satu kiper, yaitu David De Gea, tapi (Jose) Mourinho bersikeras kalau si kiper tidak akan meninggalkan United. Padahal pemain sendiri ingin bermain di Madrid," kata Inda kepada El Chiringuito.
"De Gea menganggap Manchester seperti neraka karena setiap hari gelap. Secara pribadi dia telah mengungkapkan keinginannya bermain untuk Real Madrid," tambah Inda.
Menanggapi rencana Madrid itu, Mourinho pun menantang Presiden Real Madrid, Florentino Perez, untuk mengajukan penawaran. Namun sebelumnya Mourinho terlebih dahulu menyampaikan dua syarat yang tampaknya bakal membuat Perez mundur teratur. Apa itu?
Pertama, Mourinho meminta kepada Madrid untuk menebus harga De Gea sesuai dengan buyout clause atau klausul pelepasannya yang sebesar 70 juta Euro atau setara Rp1 Triliun.
Jika Madrid setuju menebus transfer De Gea tadi, Mourinho meminta kepada Real Madrid untuk melepas Toni Kroos ke Manchester United. Pihak MU siap dan mampu membeli gelandang Jerman itu sesuai dengan nilai buyout clause-nya. Mourinho yakin sekali kalau Kroos mau bergabung dengan Tim Setan Merah.
LA Galaxy disebut siap menawarkan Zlatan Ibrahimovic gaji yang akan menjadikannya pemain dengan bayaran termahal sepanjang sejarah MLS, jika ia bersedia meninggalkan Manchester United.
Mantan pemain Swedia itu bergabung dengan Setan Merah secara gratis di awal musim dan sejak saat itu ia memenangkan hati banyak suporter klub karena proses adaptasinya yang cepat di sepakbola Inggris.
Ibrahimovic sudah mencetak 26 gol untuk klub di semua kompetisi, termasuk gol penentu kemenangan atas Southampton di final Piala Liga 10 hari silam, dan juga kini mendapat kans untuk mengikat kontrak baru di Old Trafford.
Manajer Jose Mourinho sebelumnya sudah menegaskan bahwa ia ingin mantan pemain PSG dan Barcelona itu untuk mengikat kontrak anyar, namun BBC mengklaim bahwa sang pemain mungkin tak kuasa untuk menolak tawaran masif yang datang dari Amerika Serikat.
Disebutkan bahwa LA Galaxy akan melewati angka 5,9 juta pounds per pekan yang dibayarkan Orlando City untuk Kaka, mengingat mereka melihat sang striker bisa membawa dampak besar di klub – baik dari sisi komersial maupun olahraga – mirip seperti David Beckham ketika bergabung di 2007.
Ibrahimovic diperkirakan akan turun di laga Liga Europa melawan Rostov malam nanti, sebelum ia kemudian menjalani hukuman tiga laga akibat menyikut bek Bournemouth, Tyrone Mings, pekan lalu.
Badan sepakbola Eropa UEFA mengumumkan bahwa mereka membuka penyelidikan terhadap dua klub, Arsenal dan Bayern Munchen atas ulah suporter mereka masing-masing dalam laga leg kedua 16 besar Liga Champions kemarin.
Bayern sukses mengulangi pembantaian mereka dengan kembali menang 5-1 sekaligus membuat skor agregat menjadi 10-2. Namun laga ini diwarnai dengan tindakan melanggar peraturan yang dilakukan suporter kedua tim.
Bayern didakwa atas ulah suporter mereka yang melemparkan tisu toilet sebelum kick-off sebagai bentuk protes terhadap mahalnya harga tiket penonton yang ditetapkan kubu tuan rumah. Sementara Arsenal juga mendapat perlakuan serupa karena salah seorang pendukung mereka kedapatan masuk ke area permainan sesaat sebelum laga berakhir.
Badan Kontrol, Etika dan Disiplin UEFA rencananya akan mengumumkan hasil penyelidikan dari kasus ini pada 23 Maret mendatang.
Tak hanya Arsenal dan Bayern, UEFA juga bakal melakukan investigasi terhadap Napoli karena menutup tangga stadion, penggunaan laser, pelemparan benda ke lapangan dan menyalakan kembang api dalam laga kontra Real Madrid.
No comments:
Post a Comment