Statistik di bawah ini menunjukkan betapa drastisnya penurunan performa striker Arsenal, Alexis Sanchez, sepanjang 2017. Diyakini, buntunya proses negosiasi kontrak baru menjadi salah satu faktor di balik melorotnya rapor Sanchez.
Secara keseluruhan, sejatinya Sanchez justru menoreh catatan terbaik dalam tiga musimnya bermain bersama skuat asuhan Arsene Wenger, utamanya di Liga Premier. Dalam dua musim terdahulu, Sanchez hanya mencetak 16 dan 13 gol. Di musim ini, dengan sisa 8 partai, Sanchez telah mengoleksi 18 gol.
Nah, catatan positif tersebut justru terjadi di paruh pertama musim atau sampai akhir 2016. Begitu isu soal negosiasi kontrak kerjanya muncul di muka publik, sejak itulah atau begitu 2017 dimulai, rapor Sanchez mulai memerah.
Berikut catatannya Sanchez di musim 2016-2017:
Rasio gol per partai: 2016 = 0,71 2017 = 0,53
Jumlah assist per partai: 2016 = 0,35 2017 = 0,27
Jumlah tendangan per partai: 2016 = 3,36 2017 = 4,00
Jumlah peluang per partai: 2016 = 2,71 2017 = 2,22
PEMAIN asing masih merepresentasikan level teratas kasta pemain pada kompetisi di Indonesia. Bahkan bisa dibilang, semakin banyak memiliki pemain asing, klub-klub merasa lebih kuat dan semakin percaya diri.
Oleh karena itu, PSSI melegalkan penambahan jumlah legiun impor melalui regulasi perekrutan marquee player alias pemain bintang internasional, klub-klub kontestan Liga 1 langsung merepons cepat. Mereka berlomba memburu pemain asing tambahan. Aturan tentang kuota maksimal tiga pemain impor (1 Asia da 2 non-Asia) demi memberi ruang lebih pada pemain lokal pun akhirnya tinggal kenangan.
Marquee player versi PSSI adalah pesepak bola asing yang dianggap berkelas dunia. Menurut peraturan di Liga 1, pemain itu bisa berasal dari negara mana saja, bebas berusia berapa pun, tetapi pernah bermain setidaknya dalam tiga putaran Piala Dunia terakhir (untuk hal ini pada tahun 2006, 2010, dan 2014) atau berkiprah liga top Eropa.
Selagi punya sumber dana memadai, setiap klub bebas merekrut hingga lima pemain impor berlabel bintang internasional. Kondisi ini tentu memberikan ruang lebar bagi tim-tim kaya untuk memiliki banyak pemain asing. Wajar jika begitu aturan marquee player ini didengungkan, tercatat sejumlah klub berduit sudah langsung menambah perbendaharaan pemain asing mereka.
Persib misalnya. Persib bisa dibilang merupakan "biang kerok" tercetusnya regulasi marquee player ini. Begitu Persib mengumumkan perekrutan eks bintang Chelsea Michael Essien, aturan marquee player pun lahir.
Tak berhenti di Essien, Persib juga merekrut mantan penyerang tim nasinoal Inggris yang tenar bersama West Ham United Carlton Cole. Ditambah Vladimir Vujovic (Montenegro) dan Shohei Matsunaga (Jepang), Persib sudah diperkuat empat pemain asing.
Madura United mengikuti jejak Persib dengan mendatangkan Peter Odemwingie, striker berpaspor Nigeria yang kenyang pengalaman bermain di Liga Premier Inggris. Odemwingie menambah kekuatan amunisi impor Laskar Sape Kerrab yang sebelumnya sudah dihuni oleh pemain Brasil, Maroko, dan Australia.
Dari Samarinda, setelah mengikat dua pemain Brasil dan seorang bek Jepang, Borneo FC ikut bergerak cepat memburu pemain bintang internasional sebagai tambahan pemain asing. Pesut Etam merekrut Shane Smeltz, striker tim nasional Selandia Baru yang pernah membobol gawang kiper Italia Gianluigi Buffon pada Piala Dunia 2010. Dengan demikian, Borneo sudah punya empat pemain impor untuk mengarungi kompetisi.
Empat pemain asing juga dimiliki oleh PSM Makassar. Juku Eja mendaftarkan Willem Jan Pluim (Belanda) dan Steven Paulle (Prancis) sebagai marquee player karena sebelumnya berkiprah di liga elite Eropa. Keduanya menjadi amunisi impor bersama masing-masing seorang pemain asal Belanda dan Australia.
Tak mau ketinggalan, Persela Lamongan juga baru saja meresmikan pemain Portugal, Jose Manuel Barbose Alves alias Jose Coelho sebagai pemain asing istimewa yag sekaligus membuat Laskar Joko Tingkir punya empat pilar impor. Jendela transfer pemain masih terbuka hingga 30 April nanti sehingga potensi bertambahnya para bintang tenar internasional masih cukup besar.
Isu-isu kemudian berkembang. Mantan penyerang Tottenham Hotspur Robbie Keane dan mantan gelandang Liverpool Mohamed Sissoko dikaitkan dengan Bali United. Sriwijaya FC dihubungkan dengan eks penyerang Manchester United dan tim nasional Bulgaria, Dimitar Berbatov. Sementara itu, Persija Jakarta dikabarkan mengincar mantan pemain tim nasional Portugal yang pernah memperkuat Liverpool dan Chelsea, Raul Meireles.
Fenomena marquee player sejatinya bukan hal baru di sepak bola Indonesia. Pahlawan Argentina di ajang Piala Dunia, Mario Kempes dan bintang legendaris Kamerun Roger Milla pernah meramaikan kompetisi Indonesia saat direkrut Pelita Jaya pada 1990-an. Namun, mereka yang direkrut sudah melebihi usia 40 tahun saat itu tidak lantas mampu membawa timnya juara.
Untuk mendongkrak popularitas klub sehingga menarik minat sponsor, perekrutan pemain impor tenar ini boleh saja merupakan strategi mujarab. Lihat saja Persib yang langsung dikeroyok belasan sponsor begitu Essien dan Cole merapat di Bandung. Para pemain bintang ini juga harus diakui akan ikut membuat nama Indonesia mendunia.
Namun, perlu digarisbawahi pula, kehadiran para mantan bintang tenar itu tidak menjamin prestasi di lapangan. Marquee player tidak serta-merta membuat tim lebih kuat karena pada kenyataannya, para bintang yang direkrut merupakan pemain-pemain yang sudah uzur dan melewati periode terbaik permainannya. Malahan, beberapa di antaranya sudah bertahun-tahun tidak bermain akibat riwayat cedera berkepanjangan dan bahkan dicap perekrutan gagal oleh klub sebelumnya.
Kondisi ini tentu berbeda dengan perekrutan pemain bintang internasional di Liga Tiongkok atau Amerika Serikat yang melibatkan pemain-pemain bintang kompetitif dengan kualitas masih mumpuni. Oleh karena itu, pada Liga 1 nanti, bukan berarti tim-tim kaya yang diperkuat marquee player bakal lebih dominan ketimbang tim-tim yang bermodalkan kolaborasi pemain lokal dan pemain asing biasa. Tim-tim biasa yang tak mampu merekrut marquee player tidak seharusnya khawatir untuk melakoni persaingan Liga 1.
Kemenangan Bali United atas Persib Bandung pada laga uji coba di Bandung akhir pekan lalu adalah bukti bahwa keberadaan marquee player tak berbanding linier dengan hasil apik di lapangan. Diperkuat oleh Essien dan Cole, Persib nyatanya tidak menjadi jauh lebih kuat dibandingkan dengan Bali United yang menurunkan mayoritas pemain muda dan tiga pemain impor biasa.
Kedua pemain bintang internasional supermahal untuk ukuran Indonesia itu tak memberi kontribusi signifikan pada performa tim. Persib tetap kepayahan bahkan sempat kebobolan dua gol sebelum akhirnya kalah 1-2 di hadapan pendukungnya sendiri.
Lantas, apakah marquee player ini akan menambah kualitas liga atau sekadar tren gaya-gayaan sebagai pengatrol pamor klub dan kompetisi ? Masih menjadi misteri besar.
Adnan Januzaj diyakini tak punya masa depan lagi di Manchester United. Dia gencar disebut akan dilepas pada musim panas ini, setelah tampil tak mengesankan dalam periode peminjaman.
Dikutip dari Daily Mail, Januzaj bakal dilepas MU pada musim panas 2017 ini. Disebutkan kalau beberapa klub Prancis, Italia, dan Jerman sudah menyatakan ketertarikan pada gelandang Belgia itu.
Dalam dua tahun terakhir, Januzaj sudah tak bermain di Old Trafford. Musim lalu dia bermain di Borussia Dortmund dan tahun ini berseragam Sunderland, sama-sama sebagai pinjaman.
Menjalani periode peminjaman di Sunderland, Januzaj gagal memberikan kontribusi terbaiknya. Bermain 21 kali di Premier League musim ini dia sama sekali belum bikin gol. Dia hanya mencetak satu gol ke gawang Shrewsbury di Piala Liga Inggris. Selain itu Januzaj juga sudah mengoleksi satu kartu merah dalam laga dengan Tottenham Hotspur.
Pemain asal Belgia itu masih memiliki sisa kontrak satu tahun dengan MU. Minggu lalu, pelatih MU, Jose Mourinho telah mengabarkan, bahwa dirinya sudah mengambil keputusan terkait dengan pemain 22 tahun itu dan diyakini akan melepasnya.
Diboyong MU dari Anderlecht saat masih berusia 16 tahun, tercatat lima musim berseragam The Red Devils. Tampil dalam 63 pertandingan di semua kompetisi, dia menghasilkan lima gol.
Selalu tampil segar dan bugar, serta memiliki bentuk tubuh yang ideal, tentunya menjadi dambaan setiap wanita. Hal ini juga yang tampaknya kerap melekat dalam diri seorang Jennifer Kurniawan.
Sosok cantik yang merupakan istri dari bintang sepakbola nasional, Irfan Bachdim ini mencuat, seiring kian populernya pamor sang suami. Meski demikian, pamor Jennifer juga kini tak kalah top dengan aksi-aksi Irfan bersama Bali United.
Daya tarik yang begitu memikat dari Jennifer, menjadikan ibu dari dua putri ini selalu menebar pesona bagi siapa pun yang memandangnya.
Alhasil, Jennifer pun menjelma sebagai selebritas di berbagai jagat hiburan Tanah Air dengan modal paras anggun serta tubuh seksi kesayangan Irfan Bachdim tersebut.
Dalam akun Instagram pribadinya, @jenniferbachdim beberapa waktu lalu Jennifer memposting video yang menampilkan aksi olah tubuh, yang juga di dukung oleh produk apparel ternama.
Wanita 30 tahun itu memamerkan liuk enerjik dari aktifitas berkeringatnya tersebut. Sontak hampir 440 ribu orang telah menyaksikan tayangan video komersilnya tersebut dengan segudang pujian dari kaum Adam pun mengalir untuk kakak Kim Jeffrey Kurniawan ini.
CHELSEA harus bersiap-siap mencari pemain baru pada bursa transfer musim panas 2017. Sebab pada periode itu, The Blues –julukan Chelsea– berpotensi ditinggalkan dua pemain andalan mereka, Eden Hazard dan Diego Costa.
Seperti diberitakan The Sun, Rabu (12/4/2017), Real Madrid terus melakukan lobi-lobi kepada agen Hazard dan manajemen Chelsea. Demi mendapatkan pemain yang telah mencetak 14 gol di Liga Inggris musim ini, Los Blancos –julukan Madrid– berani menggelontorkan 100 juta pounds atau sekira Rp1,6 triliun!
Hazard kian gencar dikaitkan dengan Madrid, seiring menguatnya kabar kepergian Karim Benzema dari Estadio Santiago Bernabeu pada bursa transfer musim panas 2017. Sementara itu, Costa diburu klub Liga Super China, Tianjin Quanjian.
Tianjin Quanjian yang diasuh Fabio Cannavaro disebut-sebut sebagai destinasi utama penyerang keturunan Brasil itu. Bahkan, mantan penyerang Atletico Madrid itu hampir hengkang ke Tianjin pada bursa transfer musim dingin 2017.
Namun, Antonio Conte (pelatih Chelsea) mampu menahan sang pemain agar tidak meninggalkan Stadion Stamford Bridge. Hal itu karena tenaga Costa sangat dibutuhkan, mengingat Chelsea sedang berada di jalur tepat untuk meraih trofi Liga Inggris 2016-2017.
Claudio Ranieri percaya Diego Simeone memiliki kemiripan dengan Antonio Conte dan sang manajer bisa meraih sukses besar di Premier League.
Mantan manajer Chelsea rupanya amat mengagumi pekerjaan pria Argentina di Atletico Madrid dan mengungkap bahwa ia membentuk Leicester City musim lalu dengan cara yang mirip ketika Simeone membawa timnya menjuarai La Liga.
Arsenal sudah beberapa kali dikaitkan dengan pria berusia 46 tahun, yang akan menghadapi Leicester di Liga Champions malam nanti, di mana Arsene Wenger hingga kini belum dipastikan akan bertahan atau hengkang.
Dan Ranieri mendukung Simeone untuk meraih sukses di Inggris, anda ia nantinya memang datang ke Premier League. “Ketika saya membangun Leicester, Atletico Madrid adalah salah satu tim yang saya tonton. Saya coba membandingkan Leicester dengan Atletico Madrid. Simeone orang Argentina, dia lahir di sana namun bermain di Italia,” tutur Ranieri di Sky Sports.
“Dan Atletico Madrid memainkan gaya Italia. Itu amat sangat sulit, 4-4-2, amat kompak, kuat. Mereka punya pemain bagus dan mampu bermain dengan intensitas tinggi.”
Ketika ditanya apakah Simeone akan membawa pengaruh positif di Premier League, ia menambahkan: “Saya mungkin bisa membandingkannya dengan Antonio Conte, manajer yang juga bagus. Namun saya kira dia juga harus memahami semua budaya Inggris, itu amat penting.”
No comments:
Post a Comment